Selasa, 05 Januari 2016

POSYANDU






Definisi Posyandu adalah wadah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibimbing petugas terkait. (Departemen Kesehatan RI. 2006). Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. Tujuan Posyandu Tujuan posyandu antara lain:
  • Menurunkan angka kematian bayi (AKB), angka kematian ibu (ibu hamil), melahirkan dan nifas.
  • Membudayakan NKBS
  • Meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan KB serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.
  • Berfungsi sebagai wahana gerakan reproduksi keluarga sejahtera, gerakan ketahanan keluarga dan gerakan ekonomi keluarga sejahtera.
Kegiatan Pokok Posyandu
  • KIA
  • KB
  • Imunisasi
  • Gizi
  • Penanggulangan diare 
Pelaksanaan Layanan Posyandu
Pada hari buka posyandu dilakukan pelayanan masyarakat dengan sistem 5 meja yaitu:
Meja I : Pendaftara

Meja II : Penimbangan

Meja III : Pengisian KMS

Meja IV : Penyuluhan perorangan berdasarkan KMS

Meja V : Pelayanan kesehatan berupa:
  • Imunisasi
  • Pemberian vitamin A dosis tinggi.
  • Pembagian pil KB atau kondom.
  • Pengobatan ringan.
  • Konsultasi KB.
Petugas pada meja I dan IV dilaksanakan oleh kader PKK sedangkan meja V merupakan meja pelayanan medis.

Keberhasilan Posyandu
Keberhasilan posyandu tergambar melalui cakupan SKDN.
S  : Semua balita di wilayah kerja posyandu.
K : Semua balita yang memiliki KMS.
D : Balita yang ditimbang.
N : Balita yang Berat Badannya naik
Keberhasilan Posyandu berdasarkan:
1. Baik/ kurangnya peran serta masyarakat.
2. Berhasil tidaknya program posyandu.

Kegiatan Posyandu




1.   Jenis Pelayanan Minimal Kepada Anak
Penimbangan untuk memantau pertumbuhan anak, perhatian harus diberikan khusus terhadap anak yang selama ini 3 kali  tidak melakukan penimbangan, pertumbuhannya tidak cukup baik sesuai umurnya dan anak yang pertumbuhannya berada di bawah garis merah KMS. Pemberian makanan pendamping ASI dan Vitamin A. Pemberian PMT untuk anak yang tidak cukup pertumbuhannya (kurang dari 200 gram/ bulan) dan anak yang berat badannya berada di bawah garis merah KMS. Memantau atau melakukan pelayanan imunisasi dan tanda-tanda lumpuh layu. Memantau kejadian ISPA dan diare, serta melakukan rujukan bila perlu.

2. Pelayanan Tambahan yang Diberikan 
  • Pelayanan bumil dan menyusui.
  • Program Pengembangan Anak Dini Usia (PADU) yang diintegenerasikan dengan program Bina Keluarga Balita (BKB) dan kelompok bermain lainnya.
  • Program dana sehat atau JPKM dan sejenisnya, seperti tabulin, tabunus dan sebagainya.
  • Program penyuluhan dan penyakit endemis setempat.
  • Penyediaan air bersih dan penyehatan lingkungan pemukiman.
  • Usaha Kesehatan Gigi Masyarakat Desa (UKGMD).
  • Program diversifikasi pertanian tanaman pangan.
  • Program sarana air minum dan jamban keluarga (SAMIJAGA) dan perbaikan lingkungan pemukiman.
  • pemanfaatan pekarangan.
  • Kegiatan ekonomis produktif, seperti usaha simpan pinjam dan lain-lain.
  • Dan kegiatan lainnya seperti: TPA, pengajian, taman bermain

Manfaat Posyandu  
Posyandu memberikan layanan kesehatan ibu dan anak, KB, imunisasi, gizi, penanggulangan diare.
1. Kesehatan ibu dan anak
  • Ibu:  Pemeliharaan kesehatan ibu di posyandu, Pemeriksaan kehamilandan nifas, Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah, Imunisasi TT untuk ibu hamil.
  • Pemberian Vitamin A: Pemberian vitanin A dosis tinggi pada bulan Februari dan Agustus (Bagian Kependudukan dan Biostatistik FKM USU. 2007). Akibat dari kurangnya vitamin A adalah menurunnya daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit. (Dinas Kesehatan RI. 2006: 95)
  • Penimbangan Balita: Penimbangan balita dilakukan tiap bulan di posyandu (Dinas Kesehatan RI. 2006: 95).

Penimbangan secara rutin di posyandu untuk pemantauan pertumbuhan dan mendeteksi sedini mungkin penyimpangan pertumbuhan balita. Dari penimbangan yang kemudian dicatat di KMS, dari   data tersebut dapat diketahui status pertumbuhan balita (Dinas Kesehatan RI. 2006: 54), apabila penyelenggaraan posyandu baik maka upaya untuk pemenuhan dasar pertumbuhan anak akan baik pula.

KMS adalah kartu untuk mencatat dan memantau pekembangan balita dengan melihat garis pertumbuhan berat badan anak dari bulan ke bulan pada KMS dapat diketahui status pertumbuhan anaknya. 

Kriteria Berat Badan balita di KMS:
Berat badan naik :
  • Berat badan bertambah mengikuti salah satu pita warna, berat badan bertamabah ke pita warna diatasnya.
Berat badan tidak naik :
  • Berat badanya berkurang atau turun, berat badan tetap, berat badan bertambah atau naik tapi pindah ke pita warna di bawahnya.
Berat badan dibawah garis merah 
Merupakan awal tanda  balita gizi buruk Pemberian makanan tambahan atau PMT, PMT diberikan kepada semua balita yang menimbang ke posyandu. (Departemen Kesehatan RI. 2006: 104)
2. Keluarga Berencana
 Pelayanan Keluarga Berencana berupa pelayanan kontrasepsi kondom, pil KB, dan suntik KB.
3. Imunisasi
 Di posyandu balita akan mendapatkan layanan imunisasi.

Macam imunisasi yang diberikan di posyandu adalah
  • BCG untuk mencegah penyakit TBC.
  •  DPT untuk mencegah penyakit difteri, pertusis (batuk rejan), tetanus.
  • Polio untuk mencegah penyakit kelumpuhan.
  • Hepatitis B untuk mencegah penyakit hepatitis B (penyakit kuning).
4. Peningkatan Gizi
Dengan adanya posyandu yang sasaran utamanya bayi dan balita, sangat tepat untuk meningkatkan gizi balita (Notoadmodjo, Soekidjo. 2003: 205). Peningkatan gizi balita  di posyandu yang dilakukan oleh kader berupa    memberikan penyuluhan tentang  ASI, status gizi balita, MPASI, Imunisasi, Vitamin A, stimulasi tumbuh kembang anak, diare pada balita (Dinas Kesehatan RI. 2006: 24).
5. Penanggulangan diare
 Penyediaan oralit di posyandu (Dinas Kesehatan RI. 2006: 127). Melakukan rujukan pada penderita diare yang menunjukan tanda bahaya di Puskesmas. (Departemen Kesehatan RI. 2006: 129). Memberikan penyuluhan penggulangan diare oleh  kader posyandu. (Departemen Kesehatan RI. 2006: 132)

Faktor–Faktor yang Mempengaruhi Kedatangan Ibu di Posyandu:
  • Pengetahuan ibu tentang manfaat posyandu.
  • Motivasi ibu untuk membawa anaknya ke posyandu
  • Pekerjaan iu 
  • Dukungan dan motivasi dari kader posyandu dan tokoh masyarakat 
  • Sarana dan prasarana di posyandu 
  • Jarak dari posyandu tersebut
(Widiastuti,2006)

Daftar Pustaka
Pengertian Posyandu, Kegiatan, Definisi, Tujuan, Fungsi, Manfaat  dan Pelaksanaan Posyandu. KMS

Cessnasari. Ke Posyandu Terthindar Busung lapar. http://suaramerdeka.com. 15.15 wib. 2 Maret 2008

Departemen kesehatan RI. 2006 Buku Kader Posyandu Dalam Usaha Perbaikan Gizi Keluarga. Jakarta. Departemen Kesehatan RI.

Effendy, Nasrul. 1998. Dasar-Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Kependudukan dan Biostatik FKM USU.Posyandu Sebagai Sarana Peran Serta  Masyarakat dalam UPKM. http://www.library.usu.ac.id. 19.25 wib. 5 April 2008

Notoatmodjo, Soekidjo. Ilmu Kesehatan Masyarakat.. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Widiastuti. Pemanfaaan Penimbangan  Balita di Posyandu. http://www.irc.kmpk.ugm.ac.id. 18.00 wib. 5 April 20

biokimia




KANKER



Kanker adalah penyakit yang ditandai dengan kelainan siklus sel khas yang menimbulkan kemampuan sel untuk:
Tiga karakter ganas inilah yang membedakan kanker dari tumor jinak. Sebagian besar kanker membentuk tumor, tetapi beberapa tidak, seperti leukemia. Cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan studi, diagnosis, perawatan, dan pencegahan kanker disebut onkologi.
Kanker dapat menyebabkan banyak gejala yang berbeda, bergantung pada lokasi dan karakter keganasan, serta ada tidaknya metastasis. Diagnosis biasanya membutuhkan pemeriksaan mikroskopik jaringan yang diperoleh dengan biopsi. Setelah didiagnosis, kanker biasanya dirawat dengan operasikemoterapi, atau radiasi. Kebanyakan kanker menyebabkan kematian. Kanker adalah salah satu penyebab utama kematian di negara berkembang. Kebanyakan kanker dapat dirawat dan banyak disembuhkan, terutama bila perawatan dimulai sejak awal. Banyak bentuk kanker berhubungan dengan faktor lingkungan yang sebenarnya bisa dihindari. Merokok dapat menyebabkan banyak kanker daripada faktor lingkungan lainnya. Tumor (bahasa Latin; pembengkakan) menunjuk massa jaringan yang tidak normal, tetapi dapat berupa "ganas" (bersifat kanker) atau "jinak" (tidak bersifat kanker). Hanya tumor ganas yang mampu menyerang jaringan lainnya ataupun bermetastasis. Kanker dapat menyebar melalui kelenjar getah bening maupun pembuluh darah ke organ lain.


Sistem Imun Surveillance


Sistem imun surveillance adalah suatu sistem imun yang dapat mengenali suatu sel tumor melalui ekspresi antigen permukaan sel yang berbeda yang terjadi akibat mutasi genetik atau infeksi virus.  Perkembangan dan pertumbuhan sel berlangsung di bawah pengawasan yang ketat. Pada orang dewasa, replikasi sel ini umumnya terjadi untuk mengganti sel-sel yang mati. Sel-sel baru yang normal ini akan menggantikan sel yang sudah mati tanpa mengganggu sel-sel tetangganya.
Kegagalan Sistem Imun Surveillance
Jika ada suatu sel yang bermutasi menjadi sel tumor namun luput dari sistem imun surveillance manusia, maka kontrol perkembangan dan pertumbuhan sel tersebut menjadi tidak terkendali. Jika lokasi sel tumor tersebut tetap dan perkembangan dan pertumbuhannya lambat serta tidak menyerang atau menginvasi sel tetangganya, maka dianggap sel tumor itu bersifat jinak. Sebaliknya jika sel tumor tersebut bertumbuh dengan cepat dan menginvasi sel tetangga, maka sel tumor tersebut dikatakan memiliki sifat ganas atau dikatakan sel kanker. Salah satu sifat sel kanker adalah sel tersebut tidak melekat pada sel tetangga, sel kanker dapat melepaskan diri dari tumor induk dan bersirkulasi di bagian tubuh lain membentuk koloni baru yang juga bersifat ganas. Keadaan ini dinamakan metastasis.
Peranan Sistem Imun Manusia dalam Penyakit Kanker
Selain menghancurkan sel inang yang terinfeksi virus, sel limfosit T berperan dalam mengenali dan menghancurkan sel baru yang berpotensi menjadi sel tumor  sebelum mereka bereplikasi dan menyebar. Sistem pengenalan ini dinamakan sistem imun surveillance. Setiap hari sistem imun surveillance menghancurkan sel yang berpotensi menjadi sel tumor. Sel normal dapat berubah menjadi kanker jika terjadi mutasi pada gen yang mengatur pembelahan dan pertumbuhan sel tersebut. Mutasi ini dapat terjadi secara kebetulan atau akibat paparan karsinogenik seperti sinar radiasi, bahan kimia lingkungan tertentu, atau iritasi fisik. Selain itu sel kanker juga dapat disebabkan oleh infeksi virus, sebagai contoh kanker serviks yang disebabkan human papilloma virus (HPV). Dengan kata lain saat sel abnormal mulai berkembang, sel kekebalan tubuh akan bergerak menghancurkannya. Pada orang berusia lanjut, orang yang mengalami stres ataupun keletihan kronis, serta yang kekebalan tubuhnya terganggu, keseimbangan antara sel kanker dan sel imun terganggu. Jika kekebalan tubuh melemah, sel kanker pun akan berkembang.

PENGOBATAN KANKER
Bila sel kanker tersebut dapat diketahui sejak dini yakni sebelum menyebar ke bagian tubuh yang lain, maka tindakan pembedahan dapat dilakukan untuk mengangkat sel tersebut. Namun jika sel kanker tersebut telah menyebar atau telah bermetastasis, maka tindakan pembedahan saja tidak cukup.  Pada keadaan ini, dibutuhkan obat yang dapat mengganggu proses pembelahan dan pertumbuhan dari sel yang bereplikasi dengan cepat. Obat ini dinamakan obat sitostatika. Obat sitostatika dapat menghancurkan sel ganas, namun dapat pula menghancurkan sel-sel normal yang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang cepat, seperti sel darah, atau sel-sel pada saluran pencernaan.
SISTEM kekebalan tubuh manusia merupakan obat paling efektif dalam memberantas segala penyakit, termasuk penyakit mematikan seperti kanker. Bagaimana cara kerjanya? Seiring perkembangan zaman dan gaya hidup modern, kemungkinan orang terkena kanker dan tumor terus meningkat. Secara garis besar terdapat tiga metode pengobatan penyakit kanker, yaitu pembedahan, penyinaran, dan kemoterapi. Penelitian mengenai ilmu pengobatan kanker terus dikembangkan dengan tujuan menghindari efek yang begitu besar terhadap penderita. Salah satu metode yang terus menjadi bahan perbincangan adalah bioterapi, pengobatan kanker menggunakan sel pembunuh alami (natural cell killer) atau sel NK. Sel ini tidak lain merupakan fungsi biologis dari kekebalan terhadap pembelahan sel.
Terapi ini diketahui sangat baik untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan penyembuhan kanker. Selain itu, dapat pula dikombinasikan dengan metode penyembuhan lain tanpa menimbulkan efek samping. Sel NK menghancurkan sel yang terinfeksi dan sel kanker ketika sistem imun sel T dan B tetap termobilisasi. Terapi autologous sel NK adalah sebuah terapi yang terbukti dapat meningkatkan kekebalan tubuh penderita kanker terhadap sel-sel kanker. Pengaktifan kekebalan sel ini dapat mencegah penularan penyakit karena bakteri, virus, sekaligus akan menyerang sel-sel kanker dalam tubuh. Proses pengaktifan sistem kekebalan dalam tubuh pada umumnya adalah pengaktifan dari pada cytotoxic T lymphocytes (CTLs) dan sel NK. CTLs membunuh sel kanker lewat reaksi antigen-antibodi. Dalam studi vitro cytotoxicity dari sel NK 50.000 kali dari sel T.
 Sel NK merupakan fungsi biologis yang paling baik dalam membunuh sel kanker. Hal yang paling penting dalam fungsi sistem kekebalan biologis dengan membedakan self-antigen dengan nonself-antigen, yakni limfosit paling berperan. Sel NK mempunyai daya kekebalan atau antibodi yang kuat. Penggunaan sel ini berefek wajah dan tubuh menjadi segar dan bercahaya, selain itu dipercaya pula bersifat antipenuaan karena mampu membuat seseorang tampak lebih muda 10-20 tahun. Dengan begitu, sel NK merupakan sebuah metode yang sangat berguna bagi penyembuhan kanker. Pada dasarnya penyembuhan tersebut diambil dari sel tubuh pasien itu sendiri, tanpa ada efek samping. Sementara itu, waktu penyembuhan tergantung pada kondisi pasien itu sendiri. Metode itu dapat dilakukan satu minggu sekali selama dalam masa penyembuhan selama 6-8 kali. Selain itu, diperlukan pemeriksaan berkala selama tiga bulan. Proses terapi ini dapat diterapkan untuk penyembuhan, memperpanjang usia, dan meningkatkan kualitas hidup.

DAFTAR PUSTAKA
Aziz, F., Andrijono., & Abdul, B, S. 2006. Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjdo
Chang, E. dkk. 2010. Patofisiologi Aplikasi pada Praktik Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Dongoes M. 1993.Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Diananda . 2009. Panduan Lengkap Mengenai Kanker . Yogyakarta: Mirza Media Pustaka.
Edianto, D. 2006. Kanker Serviks, Buku Acuan Nasional Onkologi Ginekologi. Jakarta. : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Joni. 2012. Penatalaksanaan kanker serviks.thttp://kankerserviks.or.id/komplikasi-kanker-servik-kanker-leher-rahim/. Diunduh tanggal 9 September 2013.
Mardjikoen, P. 2007. Tumor Ganas Alat Genital. Dalam: Wiknjosastro, H. , Prawirohardjo, S.Ilmu Kandungan. Ed.2. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Price dan Wilson. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit . Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Tira, D.B 2008. Risiko Jumlah Perkawinan, Riwayat Abortus, dan Pemakaian Alat Kontrasepsi Hormonal Terhadap Kejadian Kanker Serviks di Rumah Sakit Pelamonia Makassar Tahun 2006  –2007. Jurnal MKM vol. 03 no. 01 juni 2008.
Nanda International. 2007. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.